Senin, 12 September 2016

Alternatif Jitu Penerbitan dengan Biaya Menerbitkan Buku Sendiri (Self Publishing)



Alternatif Jitu Penerbitan dengan Biaya Menerbitkan Buku Sendiri (Self Publishing)

Biaya Menerbitkan Buku

 

Menjadi penulis profesional mungkin bukan impian utama semua orang, Namun banyak orang yang senang menulis. Memiliki buku yang ditulis sendiri dan mendapatinya berada di toko buku kenamaan bisa jadi merupakan hal yang paling diimpikan. Salah satu tujuan utamanya adalah berbagi buah pikiran dan karya kepada banyak orang. Walaupun royalti dari penjualan buku bisa jadi urusan nomor kesekian.

Jika bicara mengenai royalti buku dan hal-hal admistratif yang berkaitan dengan pendapatan dan keuntungan. Meski bukan prioritas, hal-hal tersebut bisa menjadi sangat sensitif. Inilah yang menjadikan banyak penulis kemudian menyerah. Perlu ketekunan, keyakinan, dan keberanian untuk melewati lorong panjang agar naskahnya dapat terbit sebagai sebuah buku.

Salah satu jalan untuk membuat sebuah buku yang dapat dibaca banyak orang adalah dengan mengirimkan naskah ke penerbit buku untuk diterbitkan. Sayangnya, tidak semua penulis memiliki naskah yang dianggap layak untuk diterbitkan oleh penerbit buku konvensional atau penerbit buku besar. Kalaupun sebenarnya layak untuk diterbitkan, naskah tersebut belum tentu sejalan dengan visi misi penerbit buku dan keinginan pasar. Sehingga disinilah proses seleksi naskah yang ketat terjadi, dan biasanya naskah-naskah yang tidak sesuai dengan kebutuhan akan ditolak oleh penerbit buku dan dikembalikan kepada si empunya.

Namun, itu dulu. Sekarang tentu berbeda. Dengan hadirnya buku elektronik dan sistem penerbit buku mandiri atau self publishing selama beberapa tahun terakhir menjadi solusi sekaligus revolusi di dunia penerbitan hampir di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, geliat penerbit mandiri sudah terlihat dalam sebelas tahun terakhir dengan munculnya beberapa penerbit buku yang menawarkan jasa self publishing tersebut. Lantas, apa sebenarnya self publishing itu? Dan bagaimana cara mendapatkannya? Berikut penjelasan lebih lengkapnya.

Sebagai seorang penulis sekaligus “seorang” penerbit, maka semua hal yang berhubungan dengan penerbitan buku pun menjadi tanggung jawab si penulis. Mulai dari pra produksi seperti penyuntingan, perancangan sampul dan isi buku, pengurusan ISBN, proses produksi atau pencetakan, hingga pemasaran, pendistribusian, konsinyasi di toko buku, promosi, dan sebagainya ditangani sendiri oleh penulis. Mungkin terdengar cukup sulit? Namun sesungguhnya tidak. Sebab dalam praktiknya, mandiri tidak berarti sendiri.

Biaya menerbitkan buku sendiri (Self Publishing) Mahal?

Cara menerbitkan buku secara mandiri atau yang lebih dikenal dengan istilah self publishing adalah salah satu cara menerbitkan buku oleh penulis tanpa bantuan penerbit konvensional atau penerbit besar (major publisher). Melalui sistem penerbit mandiri ini, seorang penulis secara pribadi dapat mengambil keputusan langsung atas naskahnya untuk dibukukan tanpa memerlukan waktu yang lama. Penulis berfungsi sekaligus sebagai penerbit karena ia menerbitkan buku atas upaya dan biaya menerbitkan buku pribadi.

Semua hal terkait penerbitan ini dapat dikerjakan atau dibantu oleh orang lain. Tentu saja atas komando penulis sebagai pemilik naskah dan modal. Apakah buku akan dicetak secara konvensional atau dicetak secara elektronik, dijual di toko buku biasa atau di toko buku online, semua dikembalikan kepada keinginan dan atas dasar keputusan penulis. Dengan bergerak secara mandiri, seorang penulis dapat menerbitkan bukunya dalam waktu kurang dari 3 bulan. Jauh lebih cepat dibandingkan penerbit konvensional yang memerlukan waktu sekitar 6 – 10 bulan untuk menerbitkan satu buku, karena banyaknya naskah yang mengantre. Lewat sistem mandiri pula, penulis memiliki kontrol langsung atas hak-haknya, termasuk hak cipta dan hak publikasi.

Biaya menerbitkan buku yang ditanggung antara lain adalah biaya:
1. Biaya jasa Layout dan biaya jasa desain cover
Biaya ini dikeluarkan oleh penulis, jika penulis tidak bisa melayout buku sendiri dan tidak menguasai teknik mendesain. Maka dari itu, skill desain dan layout sangat berguna bagi penulis dan bisa menghemat biaya. Namun di jaman sekarang, banyak juga penerbit buku self publishing yang menerapkan gratis biaya desain dan gratis biaya layout.

2. Biaya Cetak
Biaya menerbitkan buku yang paling banyak adalah biaya cetak buku. Jumlahnya tergantung berapa banyak oplagh yang diinginkan, semakin banyak jumlah oplagh makan semakin banyak juga biaya yang dikeluarkan. Namun, semakin banyak jumlah oplagh biasanya semakin rendah biaya per buku nya.
 
3. Biaya Advertising / iklan
Biaya menerbitkan buku yang lain yang harus ditanggung adalah iklan untuk memasarkan sendiri buku yang diterbitkan. karena menggunakan sistem self publishing maka buku tidak masuk ke toko buku. Biaya ini bisa dipangkas menggunakan teknologi. Penulis dapat memasarkan melalui online seperti melalui sosial media, atau pasar online yang sedang marak sekarang (contoh tokopedia, bukalapak, olx). penulis dapat juga memasarkan bukunya ke jaringan terdekatnya (misal dari dosen ke mahasiswa).
 
4. Biaya Kirim
Biaya kirim buku yang terjual dika pembelinya berada jauh dari tempat tinggal penulis, maka penulis harus menanggung biaya pengirimannya.

Dari berbagai biaya menerbitkan buku diatas, yang harus ditanggung penulis, saat ini sudah banyak penerbit buku Indie/ self publishing yang menggratiskan semua biaya kecuali biaya cetak, namun dengan syarat dan ketentuan masing-masing penerbit. Sehingga memudahkan penulis dalam menerbitkan buku.

Meskipun menawarkan banyak kemudahan dalam menerbitkan buku, penerbit mandiri atau self publishing yang lahir sebagai solusi sekaligus revolusi di era penerbitan modern ini tetap tidak bisa lepas dari miss-persepsi. Dimana masih banyak orang yang beranggapan self publishing adalah ban serep. Self publishing dipilih jika sebuah naskah ditolak penerbit besar atau sebagai batu loncatan membangun nama sebelum dilirik penerbit besar. Selain itu,  juga dapat dijadikan sebagai jalan pintas menerbitkan karya.




Namun satu hal yang tidak boleh kita lupakan. Banyak penulis besar yang karya-karyanya justru lahir dari self publishing. Salah satunya adalah Asma Nadia, salah seorang penulis senior yang saat ini semua bukunya diterbitkan secara self publishing oleh penerbit indie miliknya yang diberi nama Asma Nadia Publishing House. Selain Asma Nadia, ada novel Supernova karya Dewi Lestari yang juga diterbitkan secara self publishing. Dimana novel Supernova laris di pasaran dan bahkan beberapa kali cetak ulang. Selain kedua penulis tersebut, ada juga buku Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian karya Valentino Dinsi dan serial komik Kho Ping Ho karya Asmaraman S. Kho Ping Ho yang juga laris manis di pasaran serta memiliki pembaca yang setia.

Terlepas dari pro dan kontra serta miss-persepsi terkait menerbitkan buku secara mandiri, self publishing telah hadir sebagai solusi, revolusi dan bahkan alternatif jitu dalam menerbitkan buku dan berbagi buah pikiran serta karya kepada khalayak luas.  Jadi, bagaimana? Berani mandiri menerbitkan karya sendiri? Pilihan ada di tangan Anda dan tak ada salahnya mencoba. Siapa takut! [Nur Fitriana Sholikhah]


Referensi:
  1. http://www.kompasiana.com/irwanbajang/menerbitkan-buku-secara-mandiri_552fd35c6ea834a6458b4599
  2. http://arkea.id/mandiri-menerbitkan-buku-mengapa-tidak/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar